Kebiasaan untuk selalu menyenangkan orang lain dan sulit menolak permintaan mereka, yang dikenal sebagai people pleasing, belakangan ini mendapat perhatian karena diduga berhubungan dengan risiko penyakit autoimun. Pertanyaan yang muncul adalah apakah menjadi people pleaser dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit ini. Anggapan tersebut muncul karena perilaku ini sering kali dihubungkan dengan tingkat stres yang tinggi dan berkepanjangan.
Pengaruh Stres Terhadap Kesehatan
Menjadi seorang people pleaser sering kali berarti berusaha memenuhi harapan orang lain, yang dapat mengakibatkan pengabaian terhadap kebutuhan pribadi. Banyak individu yang merasa sulit untuk menolak permintaan, menghindari konflik, atau menahan perasaan demi menjaga suasana yang harmonis. Psikolog klinis dari The Ohio State University Wexner Medical Center, Rachel Gabelman, PhD, menyatakan bahwa perempuan sering kali diajarkan sejak kecil untuk bersikap baik, tenang, dan mengutamakan orang lain. “Kita belajar untuk bersikap akomodatif, mencari persetujuan orang lain, dan berusaha tidak menimbulkan masalah. Hal ini sering membuat kita merasa tidak seharusnya bersikap tegas serta menyuarakan kebutuhan dan keinginan kita,” ucap Gabelman.
Menurut Aaron P. Brinen, PsyD, seorang asisten profesor psikiatri, kebiasaan mengabaikan kebutuhan diri sendiri dapat meningkatkan tingkat stres. Ketika seseorang terus-menerus mengakomodasi orang lain, perasaan lelah dan tertekan dapat menumpuk tanpa disadari. Meskipun stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, para ahli mengingatkan bahwa hubungan ini tidak sesederhana yang diperkirakan.
Kompleksitas Penyakit Autoimun
Stres kronis memang dapat berkontribusi pada masalah kesehatan, termasuk penyakit autoimun. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara gangguan yang berkaitan dengan stres dan peningkatan risiko diagnosis penyakit autoimun. Namun, Kepala divisi alergi, imunologi, dan reumatologi di Universitas Buffalo, Stanley A. Schwartz, MD, PhD, menekankan bahwa meskipun stres memengaruhi sistem kekebalan tubuh, hubungan ini sangat kompleks. Penyakit autoimun dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk genetik, lingkungan, dan faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami.
Brinen menambahkan bahwa terus-menerus mengorbankan diri demi kebutuhan orang lain tidak baik untuk kesehatan mental. Oleh karena itu, penting untuk belajar mengenali kebutuhan pribadi dan menetapkan batasan. “Bersikap tegas mengenai apa yang bisa dan tidak bisa saya lakukan penting bagi kesehatan mental. Ada hubungan antara kesehatan mental dan kesehatan fisik,” jelasnya. Gabelman juga menekankan bahwa perempuan tidak perlu merasa bersalah jika mengalami penyakit autoimun. “Klaim ini dapat membuat perempuan merasa bertanggung jawab atas penyakit autoimun yang mereka alami, seolah-olah mereka sendiri yang menyebabkannya. Hal itu sama sekali tidak benar,” tuturnya.
Menjadi lebih tegas dalam menetapkan batasan bukan berarti harus bersikap kasar. Memperhatikan kebutuhan diri dan menjaga batasan merupakan bagian penting dari perawatan kesehatan, tanpa perlu mengaitkannya secara langsung dengan penyebab penyakit autoimun.