Kesehatan

Apakah Berkeringat Menjadi Indikator Efektivitas Olahraga?

Banyak orang percaya bahwa efektivitas olahraga diukur dari seberapa banyak mereka berkeringat. Namun, berkeringat sebenarnya merupakan respons alami tubuh yang tidak selalu mencerminkan kualitas lati...

T
Theresia Agatha Lestari
01 May 2026 19 pembaca
Apakah Berkeringat Menjadi Indikator Efektivitas Olahraga?
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

KOMPAS.com - Banyak individu menilai efektivitas olahraga berdasarkan jumlah keringat yang dihasilkan selama latihan. Jika tubuh tidak basah kuyup, sering kali sesi latihan dianggap tidak berarti. Hal ini sering kali terjadi ketika seseorang membandingkan diri dengan orang lain yang tampak berkeringat deras, sementara mereka sendiri tidak mengeluarkan banyak keringat. Namun, berkeringat hanyalah mekanisme alami tubuh untuk mendinginkan diri ketika otot menghasilkan panas selama aktivitas fisik.

Menurut Domenic Angelino, seorang personal trainer dari International Personal Trainer Academy, semakin banyak energi yang dibakar selama olahraga, semakin panas tubuh akan menjadi. "Semakin banyak energi yang kamu bakar selama olahraga, dan semakin cepat kamu membakarnya, tubuh akan semakin panas," jelasnya. Meskipun demikian, tidak semua orang berkeringat dengan cara yang sama; beberapa orang dapat mengeluarkan banyak keringat bahkan dengan aktivitas ringan, sementara yang lain mungkin tidak berkeringat sama sekali meskipun melakukan latihan yang intens.

Faktor-faktor seperti lingkungan dan genetik juga berperan dalam produksi keringat. Jess Schneider, personal trainer dan nutrition coach di Life Time Westchester, menjelaskan bahwa setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam mengatur suhu tubuhnya. "Faktor genetik, usia, hormon, lingkungan, pakaian, hingga tingkat latihan semuanya berperan, sehingga keringat sama sekali bukan indikator yang dapat diandalkan untuk mengukur seberapa keras seseorang berusaha atau seberapa efektif olahraganya," ungkapnya. Selain itu, penting untuk diingat bahwa pembakaran kalori tidak selalu menjadi tujuan utama dari setiap aktivitas fisik.

Angelino menambahkan bahwa beberapa jenis olahraga dirancang untuk membangun otot, sedangkan yang lain fokus pada peningkatan kekuatan. Keringat yang dikeluarkan tidak selalu mencerminkan kualitas latihan. Misalnya, seseorang mungkin tidak berkeringat banyak saat melakukan latihan pembentukan otot, meskipun latihan tersebut sangat efektif.

Usia juga berpengaruh terhadap produksi keringat. Seiring bertambahnya usia, volume keringat yang dikeluarkan sering kali menurun. Namun, pada fase perimenopause dan menopause, produksi keringat dapat meningkat. Julie Dermer, seorang personal trainer, menjelaskan bahwa kelenjar keringat menjadi kurang aktif seiring bertambahnya usia, dan pengaturan suhu tubuh menjadi kurang efisien. "Seiring bertambahnya usia, nilai olahragamu harus dinilai berdasarkan apa yang dirasakan dan peningkatannya," ujarnya.

Untuk mengevaluasi kualitas rutinitas olahraga tanpa bergantung pada jumlah keringat, Dermer menyarankan untuk mempertanyakan beberapa hal mendasar, seperti apakah merasa lebih kuat, apakah pola penggunaan otot mengalami kemajuan, atau apakah tubuh terasa lebih bertenaga setelah berlatih. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat menjadi metode evaluasi yang lebih baik.

Adalah hal yang wajar jika seseorang tidak mengeluarkan banyak keringat selama sesi olahraga. Memaksakan diri untuk berkeringat dengan berlatih melampaui kemampuan fisik justru dapat berisiko terhadap kesehatan. Schneider menekankan bahwa mencoba memberikan segalanya dalam setiap sesi latihan dapat menyebabkan cedera dan hasil yang lebih lambat dalam jangka panjang.

Nyatanya, banyak rutinitas olahraga yang efektif tanpa memerlukan banyak keringat, seperti pilates dan yoga. Mallory Fox, seorang personal trainer dan wellness coach, menyatakan bahwa efektivitas sebuah latihan bergantung pada peningkatan beban secara bertahap dan perencanaan program yang tepat, bukan pada jumlah keringat yang dihasilkan.

Dengan demikian, penting untuk memahami bahwa berkeringat bukanlah satu-satunya indikator efektivitas olahraga. Evaluasi terhadap kemajuan dan perasaan tubuh setelah berlatih dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kualitas latihan yang dilakukan.

Artikel Terkait