Kesehatan

Pekerjaan Bukanlah Cerminan Diri, Pesan Penting bagi Generasi Muda

Banyak anak muda merasa tertekan ketika pekerjaan tidak sesuai harapan, yang dapat memicu krisis identitas. Psikolog menekankan bahwa pekerjaan seharusnya tidak diartikan sebagai identitas diri.

A
Angelica Putri Wijaya
12 June 2026 6 pembaca
Pekerjaan Bukanlah Cerminan Diri, Pesan Penting bagi Generasi Muda
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

KOMPAS.com – Banyak anak muda mengalami perasaan gagal ketika pekerjaan yang mereka jalani tidak memenuhi harapan, jurusan kuliah, atau target karier yang telah mereka tetapkan. Hal ini sering kali membuat mereka meragukan kemampuan diri, merasa tertinggal dibandingkan teman-teman sebaya, dan bahkan mengalami krisis di usia 20-an. Menurut psikolog, kesalahan umum yang terjadi adalah menganggap pekerjaan sebagai identitas diri.

Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., menjelaskan bahwa pekerjaan saat ini tidak selalu mencerminkan siapa seseorang sebenarnya. "Pekerjaan Anda saat ini adalah apa yang Anda lakukan untuk membayar tagihan, bukan siapa Anda yang sebenarnya," ungkap Danti dalam wawancaranya dengan Kompas.com, Kamis (11/6/2026). Pandangan ini menjadi sangat relevan di tengah fenomena banyak lulusan yang bekerja di bidang yang berbeda dari studi mereka atau merasa bahwa potensi mereka belum sepenuhnya dimanfaatkan di dunia kerja.

Menilai Diri Melalui Pekerjaan

Danti menjelaskan bahwa banyak lulusan muda tanpa sadar menjadikan pekerjaan sebagai ukuran utama untuk menilai harga diri mereka. Ketika pekerjaan tidak sesuai dengan ekspektasi, mereka merasa gagal sebagai individu. Padahal, identitas seseorang jauh lebih luas daripada sekadar jabatan, posisi, atau tempat kerja. Masalah muncul ketika individu menganggap pekerjaan sebagai representasi penuh dari diri mereka. Akibatnya, setiap tantangan dalam karier dapat terasa seperti kegagalan pribadi. Hal ini semakin diperburuk ketika individu membandingkan diri mereka dengan orang lain yang tampak lebih sukses di media sosial.

Di sisi lain, tekanan dari pasar kerja yang sangat kompetitif memaksa banyak lulusan untuk menerima pekerjaan yang mungkin tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan atau cita-cita awal mereka.

Kehilangan Arah dan Pentingnya Aktualisasi Diri

Banyak anak muda merasa kehilangan arah di tengah tekanan karier dan krisis di usia 20-an, tanpa menyadari bahwa pekerjaan bukanlah satu-satunya ukuran nilai diri. Danti menyatakan bahwa perasaan kehilangan arah sering kali muncul ketika seseorang hanya fokus pada aspek pekerjaan, sementara kebutuhan untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri tidak terpenuhi. Hal ini dapat menimbulkan keyakinan bahwa hidup mereka sedang berjalan di jalur yang salah. Pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan hidup dan karier seseorang.

Oleh karena itu, Danti mengingatkan pentingnya menjaga jarak psikologis yang sehat antara identitas diri dan pekerjaan yang dijalani. Dengan cara ini, seseorang dapat melihat dirinya sebagai individu yang memiliki kemampuan, nilai, minat, dan potensi, terlepas dari posisi kerja yang mereka tempati.

Danti juga menyarankan agar lulusan muda tidak mengandalkan seluruh rasa percaya diri mereka pada pekerjaan saat ini. Sebaliknya, mereka perlu mencari ruang lain untuk mengembangkan kemampuan dan minat yang dimiliki. "Carilah ruang di luar pekerjaan utama, seperti proyek sampingan, komunitas, atau kursus untuk tetap mengaktualisasikan kemampuan yang lebih tinggi agar self-efficacy tetap terjaga," kata Danti. Langkah ini dapat membantu seseorang merasa terus berkembang meskipun pekerjaan yang dijalani saat ini belum sepenuhnya sesuai harapan.

Selain itu, aktivitas di luar pekerjaan juga bisa menjadi pengingat bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh satu jabatan atau satu tempat kerja saja.

Di tengah kondisi pasar kerja yang tidak selalu ideal, Danti mengingatkan pentingnya fokus pada hal-hal yang masih dapat dikendalikan. Ia menjelaskan bahwa tantangan dalam pasar kerja atau ketidaksesuaian antara jurusan dan pekerjaan sering kali berada di luar kendali individu. Oleh karena itu, energi sebaiknya diarahkan pada hal-hal yang dapat dilakukan secara nyata, seperti memperbarui resume, mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan profesional, dan menjaga kesehatan mental.

Dengan cara ini, seseorang tidak terjebak dalam perasaan gagal hanya karena posisi kariernya belum sesuai harapan. Pada akhirnya, Danti menekankan bahwa pekerjaan hanyalah salah satu aspek dari kehidupan, bukan keseluruhan identitas seseorang. Memahami hal ini dapat membantu generasi muda menghadapi tekanan karier dengan cara yang lebih sehat dan realistis.

Artikel Terkait