Kesehatan

Kesalahan Umum yang Dilakukan Pelari Sebelum Perlombaan yang Mengurangi Performa

Menjelang perlombaan, pelari sering kali melakukan kesalahan yang dapat berdampak negatif pada performa mereka. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari.

D
Daniel Kristianto
02 May 2026 16 pembaca
Kesalahan Umum yang Dilakukan Pelari Sebelum Perlombaan yang Mengurangi Performa
Sumber gambar: lifestyle.kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang perlombaan, banyak pelari yang tanpa sadar melakukan kesalahan yang dapat mengganggu performa mereka pada hari lomba. Pelatih lari Aditya Madya Pamungkas, yang akrab disapa Dodit, mengungkapkan bahwa olahraga lari sering dianggap sederhana, sehingga aspek teknisnya sering diabaikan. “Kadang-kadang kita perlu diingatkan lagi, karena olahraga lari ini kadang terlalu sederhana tapi jadi disederhanakan oleh banyak orang,” ujarnya dalam Media Briefing Road to Maybank Marathon 2026.

Dodit menekankan bahwa lari adalah olahraga yang sangat terukur. Setiap aspek latihan, mulai dari intensitas hingga perkembangan kemampuan, dapat dihitung dan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing individu. Kesalahpahaman mengenai prinsip dasar latihan sering mengakibatkan pelari melakukan persiapan yang tidak tepat menjelang lomba.

Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi adalah anggapan bahwa semua latihan harus dilakukan dengan cepat. Dodit menjelaskan bahwa setiap pelari memiliki batas kemampuan maksimal yang menjadi acuan dalam menyusun program latihan. “Lari itu olahraga yang terukur, semuanya itu bisa diukur dari performa yang kita punya. Kalau misalnya larinya 5K dengan durasi 25 menit itu adalah effort maksimal, maka itu bisa diekuivalen ke easy effort dan intervalnya berapa,” jelasnya. Menurutnya, angka performa tersebut penting untuk menentukan porsi latihan yang sesuai.

Kesalahan lainnya adalah pelari yang terlalu sering berlatih dengan kecepatan yang melebihi batas yang seharusnya. Dodit mengingatkan bahwa banyak pelari yang cenderung berlari terlalu cepat, sehingga sesi latihan yang seharusnya ringan menjadi berat. “Terkadang teman-teman pelari itu sukanya lari terlalu cepat atau overpace. Jadi yang harusnya easy effort jadi tidak easy karena permasalahan yang sering terjadi itu fatigue management yang jadi kurang terukur,” katanya. Sesi lari yang dilakukan terlalu cepat dapat mengurangi manfaat pemulihan dan membangun fondasi aerobik.

Selain itu, pelari juga sering kali berlatih tanpa melakukan pengukuran performa secara objektif. Dodit menyarankan agar pelari melakukan tes performa melalui time trial atau evaluasi catatan lari sebelumnya. “Itu semuanya bisa diukur dari melakukan tes dan pengukuran dari performance kita maksimalnya berapa,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, pelari dapat berlatih dengan lebih presisi dan tidak hanya berlari berdasarkan perasaan.

Pengelolaan kelelahan juga menjadi faktor penting dalam persiapan lomba. Dodit menegaskan bahwa perhatian terhadap kondisi tubuh sangat diperlukan. “Pengukuran performa ini bisa menjadi arahan kita agar enggak terlalu overtraining dan lebih mengenal kemampuan diri,” katanya. Banyak pelari yang terlalu fokus pada target waktu tanpa memperhatikan kondisi tubuh, yang dapat mengakibatkan kelelahan dan penurunan performa.

Oleh karena itu, menjelang lomba, pelari perlu memastikan bahwa tubuh mereka berada dalam kondisi segar melalui pengaturan volume latihan, waktu istirahat yang cukup, dan evaluasi kemampuan secara berkala. Persiapan menuju hari perlombaan bukan hanya tentang seberapa keras berlatih, tetapi juga seberapa cerdas pelari memahami batas kemampuan tubuh mereka.

Artikel Terkait