Nasional

Kritik Tajam Terhadap Kebijakan Pembelajaran Daring oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI

Selasa, 24 Maret 2026, 05:40 WIB 4 views 2 menit baca
Kritik Tajam Terhadap Kebijakan Pembelajaran Daring oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI
Bagikan:

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, My Esti Wijayanti, mengungkapkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap wacana mengenai kegiatan belajar daring bagi siswa. Ia menilai bahwa kebijakan ini memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap proses pendidikan anak-anak di Indonesia. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa sesi belajar secara daring tidak dapat menggantikan pengalaman pendidikan yang optimal yang diperoleh di lingkungan sekolah.

My Esti Wijayanti menyoroti berbagai masalah yang muncul akibat implementasi kebijakan ini. Ia mencatat, "Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran ketika belajar dari rumah. Keterbatasan akses terhadap teknologi dan internet juga menjadi penghalang bagi mereka yang berada di daerah terpencil." Pernyataan ini menekankan realitas bahwa tidak semua siswa memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses teknologi yang diperlukan untuk mengikuti pembelajaran daring dengan efektif.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pembelajaran daring dapat menyebabkan hilangnya interaksi sosial antara siswa dan guru. Hal ini berpotensi merugikan perkembangan sosial dan emosional para siswa. "Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga untuk bersosialisasi," tambahnya. My Esti menunjuk pada pentingnya interaksi langsung dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh dan bermakna bagi anak-anak.

Di sisi lain, ia juga mengkritik pemerintah yang dianggap kurang responsif terhadap tantangan yang dihadapi oleh para pelajar dan pengajar. "Kami berharap pemerintah dapat mengevaluasi kembali kebijakan ini dan memberikan solusi yang lebih efektif. Kesejahteraan pendidikan harus menjadi prioritas utama," ungkapnya. Kritik ini mencerminkan harapan agar kebijakan pendidikan dapat lebih inklusif dan beradaptasi dengan kebutuhan siswa di era digital ini.

Sementara itu, beberapa guru dan orang tua juga menyampaikan keluhan serupa, mengindikasikan bahwa tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran daring bukan hanya terbatas pada siswa, tetapi juga meluas kepada seluruh pemangku kepentingan dalam pendidikan. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 60% orang tua merasa bahwa anak-anak mereka tidak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dibandingkan dengan saat belajar di sekolah.

Melihat semua isu yang telah diungkapkan, My Esti Wijayanti mendorong adanya dialog yang lebih konstruktif antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. "Kami membutuhkan kolaborasi yang solid untuk memastikan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak," katanya. Harapannya, perubahan dan peningkatan dalam kebijakan pendidikan dapat segera direalisasikan agar siswa tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki keterampilan sosial yang baik.

Dengan demikian, kritik terhadap kebijakan pembelajaran daring ini diharapkan dapat membuka jalan bagi perbaikan yang lebih baik di masa mendatang. Berbagai pihak masih menunggu langkah konkret dari pemerintah untuk menangani isu-isu ini, agar pendidikan di Indonesia kembali ke jalur yang lebih efektif dan bermakna bagi seluruh siswa.

J

Penulis

Jarot Kusna

Penulis di Jagad Info

Sumber: www.jpnn.com jpnn.com

Berita Terkait